Jaman saya kecil, tahun 1980 an, ada namanya judi mingguan. Nama awal sistem judi yang digelar dan dilegalkan pemerintah orde baru ini adalah Porkas. Nah, banyak yang bertanya-tanya, apa itu PORKAS. Kependekan dari apa? Kalau SDSB kan Sumbangan Dana Sosial Berhadiah, atau KSOB, Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah.
Nah, Porkas diambil dari kalimat forecast.
Di Porkas ada perbedaan sistem. Kalau pada dua judi diatas murni permainan Angka yang diundi, maka Porkas ini semacam taruhan permainan Bola di Liga PSSI.
Pada Porkas masyarakat diminta untuk menebak M – S – K atau menang, seri, dan kalah. Porkas beredar hanya sampai tingkat kabupaten dan anak-anak di bawah usia 17 tahun dilarang menjual, mengedarkan, serta membelinya. Kupon Porkas ini terdiri atas 14 kolom dan diundi seminggu sekali, setelah 14 grup sepak bola melakukan 14 kali pertandingan. Jadwal pertandingan ditentukan oleh PSSI dari jadwal di dalam dan luar negeri. Setiap pemegang kupon yang tahun 1985 senilai Rp 300 menebak mana yang menang (M), seri (S), dan kalah (K). Penebak jitu 14 kesebelasan mendapat hadiah Rp 100 juta.
Sedangkan Padq SDSB Masyarakat diminta menebak angka keluaran yang akan diputar panitia, dalam hal ini dinas sosial. Total ada 6 digit yang harus ditebak. Tapi tidak harus menebak 6 digit.
Pembeli kupon dikasih pilihan untuk bisa menebak minimal 2 digit terakhir untuk bisa mendapat hadiah.
Untuk 2 digit, kita akan mendapat hadiah 60x lipat dari total duit yang kita pertaruhkan. Pemenang 2 digit, disebutnya pemenang Buntut. Karena paling buncit.
Lalu untuk pemenang 3 dapat kompensasi 350 kali lipat duit taruhan. Pemenang 3 angka disebut juga Kop atau Kepala.
Pemenang 4 digit akan meraih duit sebesar 2500 kali lipat dari total duit taruhan. Pemenang ini disebut As.
Nah, Grand Prize sebesar satu Milyar! Itu kalau nomor yang tertera dalam kupon itu klop semua sesuai keluaran Undian. Untuk 6 angka ini default, artinya kita tidak bisa memilih nomor.
Jadi-jadi bener-bener orang yang bernasib baik yang akan memenangkan undian ini.
3 contoh diatas hanya sebagaian dari sekian banyak judi legal yang diselenggarakan pemerintah. Sebelumnya lagi Era Pak Karno ada Nalo, ada Undian Harapan dan lain-lain yang ada sebelum saya lahir. Jadi nggak bisa tulis.
Era itu nggak ada hiruk politik masyarakat ngurusin urusan politik!
Buat apa? Nggak ada duitnya!
Lagian era itu ngomong politik juga sangat bahaya.
Jaman dahulu kalau ada orang ngumpul-ngumpul, ya ngomongin masalah prediksi angka keluaran SDSB. Bukan ngobrolin prediksi siapa pemenang Pilkada! Nggak ada urusan dengan segala Pilkada, karena kepala daerah dipilih langsung oleh DPRD yang udah dikasih Memo dari DPR RI yang waktu itu masih dikendalikan oleh Smiling General!
Waktu itu kelihatannya masyarakat adem ayem. Nggak ada gejolak politik. Lha wong kita sebagai warga negara nggak punya hak apapun untuk ikut serta kegiatan politik.
Jadi gimana?
Pernah lihat kan Gambar Seorang Jenderal yang sedang melambaikan tangan, disampingnya ada tulisan " Piye Le, Enak Jamanku toh?"
Enak ora enak masyarakat sing menilai mbah..mbah, apalagi Panjenengan udah dialam sana. Mana tahu panjenengan kondisi sekarang!
Kalau panjenengan bisa dengar, malah kami yang mau tanya, " Piye mbah, enak endi? Urip nang Indonesia opo alam kubur?"

