Hanya tulisan Retjeh...

Articles by "EKONOMI"

Salah satu sudut Googleplex ( Markas Besar Google)

Jaman awal-awal booming Internet, begitu banyak pilihan Search Engine. Ada Altavista, Lycos, Mailcity, Hotmail ( masih eksis sampai sekarang) dan sang Jawara, Yahoo. Mereka-mereka ini adalah situs web berbasis portal atau search engine directory. Ya kayak serach engine pada umumya, mereka menyediakan berbagai fasilitas pencarian untuk situs-situs web yang kita inginkan. Tapi jaman segitu pengguna kebanyakan kan kaum muda yang lagi gila teknologi, yang dicari masih seputar hiburan macam lagu format MP3 atau gambar terutama gambar semi porno, bahkan porno sekalian. Hushhhh...

Masing-masing portal yang saya sebut diatas punya ke-khas-an masing-masing. Altavista misalnya, punya fitur keren yang namanya Babelfish. Babelfish adalah fitur translator bahasa. ada beberapa bahasa didunia yang bisa terjemahkan satu sama lain. Terus hotmail yang waktu itu berjaya dengan fitur e-mail yang bisa diakses lewat pengirim pesan POP3 (Pos Office Protocol 3) yang tersemat secara default pada sistem operasi WIndows buatan Microsoft. Maklum, waktu itu awal-awal Hotmail diakusisi oleh Microsoft.

Buat saya, Yahoo adalah yang paling spesial dari sekian yang saya sebutkan. karena memberi fitur yang tak biasa. Yaitu Geocities yang merupakan situs web berbasis blog dan memberi kita keleluasaan membuat situs web dengan template-template yang sudah disediakan. Saya awalnya membuat situs web ya dengan Geocities ini. sayang di Geocities tak disediakan fasilitas HTML Editor. HTML kependekan dari Hyper Text Transfer Protocol. Kalau you sudah beranjak mahir mendesain satu situs web atau blog pasti butuh HTML editor. Fungsinya mengatur layout situs web dengan bahasa pemrograman.

Lalu untuk apa semua itu?

Untuk menunjang kinerja kita tentu saja!
lalu adakah dari situs-situs yang saya sebut itu memberi keuntungan secara langsung ke kita karena kita telah memanfaatkan mereka? atau sebut saja, mereka telah kita buat terkenal dengan merekomendasikan ke kawan, lalu apa reward mereka pada kita? bagi-bagi dari hasil iklan yang mereka peroleh misalnya? tak ada!

Semua tak ada! We got nothing...
Padahal mereka itu situs-situs web raksasa. bahkan Yahoo pernah 'pasang iklan' di main spot tim F1 Prost. sebuah Tim balap asal Perancis yang di miliki Alain Prost, kampiun F1. Bukan duit yang kecil kan. masih ingat Yahoo melakukan promosi besar-besaran. bahkan di Asia, terutama di Jepang sampai meyediakan akses internet gratis dengan cara mendirikan semacam Net Cafe yang waktu itu lagi menjamur. Mereka memfasilitasi pengunjung dengan Laptop pada tiap meja User. sekedar you tahu, Laptop waktu itu barang mewah berharga puluhan juta.
Tapi toh pada akhirnya Yahoo rontok juga kan?

Satu persatu mereka tumbang, kalaupun masih eksis mereka hanya sekedar bertahan sambil tunggu waktu untuk diakusisi investor besar.

MUSIK : BOHEMIAN RHAPSODY

Satu pertanyaan dasar yang sangat simpel, kenapa mereka ngos-ngosan? bahkan Yahoo sampai dijual ke Verizon, salah satu operator seluler dan Internet Service Provider di Amerika. Banyak yang menyayangkan nasib Yahoo. terutama para ahli yang berkompeten di bidang Teknologi Informasi. Yahoo merupakan pionir Search Engine dan portal web.
Kenapa nasib mereka ironis? karena mereka egois!

Mereka memang kasih kita fasilitas penunjang komunikasi, mereka emang kita kasih storage yang besar untuk kotak surat kita. tapi mereka nggak pernah mau bagi-bagi duit dari pendapatan iklan yang jumlahnya Trilyunan rupiah itu. Itu karena mereka mau menang sendiri.

Mereka cuma kasih fasilitas untuk penunjang kerja, tapi tak mau memberi peluang kerja atau usaha bagi penggunanya.
Lalu Google hadir. Semula Google mesin pencari yang tidak diperhitungkan eksistensinya. Hanya search engine debutan dengan fasilitas begitu-begitu saja. Tapi tunggu, Google saat itu tengah berevolusi.

Mulai dari saat mengakusisi Android, lalu membuat inovasi-inovasi teknologi informasi yang sangat berguna buat kehidupan manusia lain. Bahkan Google memberi kesempatan penggunanya untuk 'kerjasama' dibidang Advertising. Bagi-bagi duit iklan.

Caranya, you dipersilakan membuat blog. Sebagus mungkin blog you buat. Syukur-syukur you punya blog berguna buat kehidupan manusia lain. Kalau you punya blog banyak pengunjungnya, you bisa mengajukan ke Google agar You punya Blog dipasangi iklan. Lalu Google membagi duit dari hasil iklan tersebut. Dan Google menamakan jenis kerjasama kayak gini dengan sebutan Adsense.

Bukan hanya untuk Blog Google menawarkan kerja sama, melainkan juga untuk Vlog melalui media sosial berbasis Video, Youtube. Kalian yang pandai bahasa pemrograman tertentu juga dikasih kesempatan mengembangkan aplikasi yang bisa kalian jual melalui Play Store.

Selain aplikasi, di play store juga bisa dipakai jualan E-book. Jadi kalau kalian penulis, banyak cara yang bisa dipakai untuk cari duit.

Maka ratusan juta orang ikut mencicipi legitnya kue dari bisnis teknologi Informasi ini!




Dan Google bak Pahlawan bagi milyaran umat manusia. Menghidupi milyaran jiwa dengan 26 perusahaannyaj yang dikasih nama berurutan sesuai 26 abjad dan berinduk pada Alphabet!
Gitu cara kaya, bukan dengan korupsi…


Bego Loe!

Peringatan Bahaya Merokok yang tercantum di setiap kemasan rokok (Detik.com)

Mengapa ada Iklan "ROKOK MEMBUNUHMU", Namun Rokok masih di Produksi & Pabrik Rokok Tidak di Tutup?
Adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini?
Taukah Anda Bahwa balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?
Pertarungan politik bisnis internasional menyebabkan Indonesia kehilangan kekayaan negeri sendiri. Sebab dulu, Indonesia yang pernah berjaya dengan penjualan minyak mandar kini telah diluluh lantakkan dengan bombardir minyak sayur.




Dulu Indonesia pernah jaya dengan minyak mandar atau lomo mandar, tapi dihancurkan dengan isu bahwa minyak mandar tidak baik untuk kesehatan oleh Amerika. Hal itu juga diberlakukan pada rokok kretek, lewat WHO, WTO dan pemerintahan Indonesia soal bahaya nikotin tinggi.
Matinya Kopra, gula, garam, jamu dan kretek menandai matinya komoditas nasional.Matinya sebuah kebudayaan lokal.
Tahukah Anda tentang sentra produksi minyak kelapa di Mandar, Sulawesi Selatan?
Tahukah Anda tentang Pulau Selayar yang dahulu kala digelari pulau sejuta emas hijau?


Baca juga : Daftar 150 orang terkaya di Indonesia
Mungkin tak banyak yang tahu kalau di daratan Sulawesi di tahun 1960-an adalah hamparan pulau kelapa yang menjadi tambang hidup rakyat.
Kelapa sering disebut emas hijau berkibar-kibar di sepanjang jazirah Sulawesi, hingga tiba badai jatuhnya harga kopra dunia di tahun 1980. Ditambah dengan derasnya kampanye perang anti kelapa, benar-benar mengubur minyak kelapa. Pada tahun 90-an, negeri Uwak Sam, Amerika, getol mengampanyekan bahaya minyak kelapa bagi kesehatan. Sebagai gantinya diperkenalkanlah minyak kedelai yang lebih bersahabat dengan kesehatan.
Indonesia yang sudah berabad-abad menggunakan minyak kelapa akhirnya takluk juga. Pelan tapi pasti minyak kelapa dijauhi, membuatnya tak laku dan industri inipun gulung tikar. Hal yang sama terjadi pada gula. Tahun 1930-an, Indonesia produsen gula nomor dua dunia di bawah Kuba. Tapi sejak tuan International Monetary Fund (IMF) datang ke Indonesia tahun 1998, yang memaksa pemerintah melepas tata niaga, termasuk diantaranya gula, maka gula import membanjir.
Sejak itu pula tamatlah industri lokal syurga para semut itu. Sementara garam pernah berjaya di tanah air sendiri pada 1990-an. Kita bahkan mengekspor ke manca negara. Tapi sejak Akzo Nobel gencar kampanye garam yodium, pabrik-pabrik garam nasional bangkrut. Jamu juga mengalami nasib tragis. Posisinya sudah kian tersudut oleh obat farmasi modern. Herbal diragukan keampuhannya. Dukungan pemerintah juga minim. Jangan kaget temulawak dipatenkan oleh anak perusahaan LG, Korea Selatan.
Lagi dan lagi, pemerintah Indonesia menggunakan kacamata kuda dengan temuan baru yang dibungkus rapi dalam baju akademis dan kesehatan.
Kampanye intenasional disambut karpet merah, sementara industri lokal yang menjadi korban kampanye tak disokong baik itu kredit, subsidi, tekonologi, riset, proteksi harga dll.
Sementara industri tembakau lamban tapi pasti mengikuti jejak matinya kopra, gula, garam, jamu. Tembakau kini kian tersisih peredarannya seiring dengan aneka beleid baru yang membatasinya. Tak lama setelah Soeharto jatuh, medio 1999, menyeruaklah isu perlunya pembatasan kadar kandungan tar dan nikotin.
Dengan berlindung di balik isu kesehatan, beleid pembatasan tembakau akhirnya disahkan tahun 2009. Industri rokok kretek terpukul, sementara rokok putih diuntungkan. Dengan slogan "low tar, low nicotin", rokok kretek sempoyongan, sementara rokok putih yang menggunakan tembakau Virginia masih di atas angin, Padahal selama ratusan tahun rokok putih tak pernah bisa menggeser rokok kretek.
Dalam buku "Membunuh Indonesia. Konspirasi Global Penghancuran Kretek" diulas tentang adanya perang global melawan tembakau. Kampanye anti tembakau sesungguhnya bermula dari persaingan bisnis nikotin antara industri farmasi dengan industri tembakau di Amerika Serikat. Perusahaan farmasi berkepentingan menguasai nikotin sebagai bahan dasar produk Nicotine Replacement Therapy (NRT).
Di dalam negeri ada dua sisi bertolak belakang. Di satu sisi kebijakan anti tembakau sukses besar. PP tembakau sudah direvisi berkali-kali, puluhan perda anti tembakau, UU Kesehatan dan RPP Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif sedang digodog, kawasan dilarang merokok, iklan rokok tak selonggar dulu.
Sementara di sisi lain impor tembakau meningkat tajam. Tahun 2003 sebesar 29.579 ton naik menjadi 35.171 ton di 2004. Hingga 2008 mencapai 77.302 ton. Dalam waktu lima tahun ada kenaikan 250 persen. Impor cerutu juga naik. Rata-rata kenaikan 197,5 persen per tahun. Tahun 2004 impor cerutu masih US$ 0,09 juta, di tahun 2008 naik menjadi 0,979 juta. Apalagi juga ada fakta raksasa rokok dunia masuk ke Indonesia.
Philips Morris mencaplok Sampoerna (2005) dan BAT mengakuisi Bentoel (2009). Perusahaan farmasi yang menjual terapi rokok juga kian populer di Indonesia. (Industri kretek yang masih berada di tangan pihak Indonesia adalah Djarum, Gudang Garam, Djeruk dari daerah Kudus, Wismilak.)
Selamat datang penguasa rokok dunia, selamat tinggal industri rokok kretek yang megap-megap menjelang ajal kematian. Industri kretek dalam negeri yang memayungi hampir 30 juta orang yang bekerja di sektor ini.
Lambat tapi pasti rokok kretek menuju liang kematian yang sebelumnya telah ditempati kopra, gula, garam, jamu, dan puluhan lainnya.
Iklan "ROKOK MEMBUNUHMU" hadir Melalui Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012, spirit PP tersebut menghancurkan industri kretek nasional untuk digantikan oleh rokok putih milik Phillip Morris dan BAT, dll.
Kampanye " ROKOK MEMBUNUHMU" Di Sponsori oleh Bloomberg Initiative, sebuah lembaga berkedudukan di Amerika Serikat. Bloomberg Initiative mengumumkan bahwa lembaga itu menyeponsori (Membiayai) ilmuwan, kaum profesional, lembaga penelitian, lembaga yang mengamati produk dan kenyamanan hidup masyarakat yang membelinya, juga, termasuk, menyeponsori lembaga keagamaan, agar membuat fatwa haram atas rokok, maka jelas bahwa ada sesuatu tingkah laku yang mencerminkan keserakahan global.
Banyak pihak dipengaruhi dengan duit. Para pejabat di Departemen, tingkat menteri, di bawah menteri, gubernur, bawahannya, bupati atau wali kota dan bawahan mereka, semua menjadi korban yang berbahagia, karena limpahan duit yang tak sedikit jumlahya untuk masing-masing pihak. Mereka menjadi korban kecil, karena harus membuat aturan dan sejumlah larangan merokok, yang mungkin tak sepenuhnya cocok dengan hati nurani.
Tapi apa artinya hati nurani di jaman edan ini dibanding duit melimpah?
Para pejabat itu rela membunuh hati nurani mereka sendiri demi duit. Ada juga Gerakan Anti Rokok demi kesehatan lingkungan.
Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?
Kretek kita sangat khas. Dan di negeri orang bule, kretek kita mengantam telak perdagangan rokok putih mereka. Kretek unggul.
Dan karena itu mereka berhitung bagaimana kretek bisa mereka caplok.
Berbeda dengan penemuan Prof Sutiman Bambang Sumitro dari Pusat Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang.
Setelah penelitian belasan tahun, salah satu bukti ilmiah yang ditemukan adalah, asap rokok memang mengandung zat merugikan, namun tak cukup kuat sebagai penyebab kanker.
Lebih jauh lagi, teori Prof Sutiman menyatakan, rokok menyebabkan kanker kebanyakan hanya hasil pengolahan data di rumah sakit, bukan di lapangan.
Jadi, asal ada pasien mengidap kanker, dan kebetulan dia merokok, serta-merta rokok lah yang dituding sebagai penyebab tunggalnya.
Variabel-variabel lain yang terkait dengan gaya hidup si pasien, semisal 'asupan' polusi asap kendaraan, konsumsi MSG, dan sebagainya, diabaikan. Metode semacam itu jelas melanggar kaidah eksperimen ilmiah.
Dengan teori baru hasil penelitian ilmuwan bangsa sendiri tersebut, menjadi cukup jelas lah kenapa di sekitar kita banyak perokok aktif yang tetap sehat sampai lanjut usia.
Banyak tokoh nasional yang perokok kretek tetap bugar dan produktif hingga usia senja. Sebut saja misalnya Haji Agus Salim, mantan Menteri Pendidikan Prof Fuad Hasan, penulis besar Pramoedya Ananta Toer, master menggambar Pak Tino Sidin, tokoh Muhammadiyah Prof Malik Fadjar, dan masih banyak contoh lain.
Mengapa Industri kretek menjadi sasaran Amerika?.
Karena Industri ini disasar karena sudah memberikan sumbangan berharga bagi struktur ekonomi Indonesia.
Kekuatan industri kretek itu setidaknya karena beberapa hal.
Pertama, tumbuh berkembang dan bertahan lebih dari satu abad tanpa ketergantungan modal pada negara,
Kedua,menggunakan hampir 100% bahan baku dan konten lokal.
Ketiaga, terintegrasi secara penuh dari hulu ke hilir dengan melibatkan tak kurang dari 30,5 juta pekerja langsung maupun tak langsung.
Keempat, industri melayani 93% pasar lokal. Dengan karakter sekokoh itu, tak ayal industri kretek menjadi salah satu prototipe kemandirian ekonomi nasional.
Kekuatan inilah yang diincar neo-kolonialis gaya baru ingin menguasai industri rokok, tapi dengan mematahkan ketangguhan industri kretek Indonesia. Caranya lewat kampanye ANTI ROKOK Sekarang ROKOK MEMBUNUHMU.
Sumber Info : Buku Membunuh Indonesia. Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Penulis: Abhisam DM, Hasriadi Ary, Miranda Harlan
Penyunting: Abhisam DM
Penerbit: Kata Kata 
Terbit: Desember 2011

Banyaknya aturan antirokok di berbagai dunia menunjukkan adanya upaya konspirasi global yang ingin menguasai bisnis tembakau secara global.
"Konspirasi global ingin menguasai bisnis tembakau secara dunia, karena menarik industri tembakau ini," kata anggota Komisi IX DPR Poempida Hidayatullah di Jakarta, Kamis (13/9/2012).
Poempida mengungkapkan, ada politikus dan pengusaha dari Amerika Serikat (AS) yang banyak mengeluarkan dana untuk mengkampanyekan antirokok. "Banyak dana yang masuk juga ke DPR, apa keuntungannya? Karena dia punya perusahaan jasa informasi.
Jadi dengan melakukan kampanye ini, maka dia bisa mengontrol pasar dunia," ujarnya.
Dia mengatakan, saat ini industri rokok telah menyerap tenaga kerja yang sangat besar, dan memberi kontribusi besar terhadap APBN.
Sehingga membuat beberapa pihak tergiur untuk menguasai pasar tembakau.
Sedangkan anggota DPR Rieke Dyah Pitaloka menambahkan, saat ini ada kepentingan asing dalam industri rokok.
Mereka ingin menghancurkan industri rokok nasional, sehingga bisa menjadikan Indonesia sebagai konsumen rokok.
"Saat ini industri tembakau kita sangat bagus. Asing tidak senang, mereka lebih senang kalau kita jadi konsumen dan tempatnya buruh dengan upah murah," tegasnya.
Sementara itu, penggiat ekonomi sekaligus Presidium Insitute Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng mengatakan, dominasi perusahaan besar soal tembakau sangat besar.
"Ketika dunia internasional industri tembakau berkembang pesat, tapi di dalam negeri itu ingin dihancurkan," kata Daeng. Menurutnya, hingga saat ini negara maju seperti Amerika dan Eropa masih mensubsidi pertanian tembakaunya. "Amerika banyak sekali, sampai ke asuransi gagal panen. Eropa juga mensubsidi tanaman tembakaunya. Di dalam negeri justru dimatikan dengan muncul peraturan pemerintah hingga perda," tandasnya.
Sumber : SindoNews


Globe Asia kembali merilis daftar 150 orang terkaya Indonesia. Daftar jumlah kekayaan tersebut sesudah dikurangi Tax Amnesty. 
Posisi ke 150 diduduki Donny Wahyudi dari Puri Casa tenis group  dengan total kekayaan US$ 530 juta, posisi ini menggantikan Ishak Charlie Arga Citra Kharisma yang 'hanya' mempunyai US$ 110 juta
Peringkat the Big Three tetap. Yaitu Robert dan Michael Hartono, keduanya adalah Taipan asal Kota Kudus yang mempunyai 3 unit usaha utama. Yaitu Perusahaan Rokok Djarum, Bank Central Asia, dan Polytron dengan Total Kekayaan US$ 10,5 miliar. Kekayaan Duo bersaudara turun dari tahun lalu yang mencapai
US$ 14,8 miliar
Sedangkan Anthony Salim ada di posisi kedua membawa nama First Pasific Holding yang merupakan Induk Indofood.
 Eka Cipta Widjaja tetap di posisi 3 membasahi grup Sinar Mas. 
Sedangkan Susilo Wonowidjojo diperingkat keempat, berikut daftar lengkap 150 orang terkaya Indonesia.

*150.Donny Wahyudi* 
Puri Casa tenis group  
US$ 530 juta 
*149● Marimutu Maniwanen* 
Busana Apparel Group 
US$ 570juta  
*148● Setiawan Djody* 
Setdco Group  
US$ 535 juta  
*147● Tandean Rustandy* 
Arwana Citramulia  
US$ 540 juta 
*146● Bambang Setijo* 
Pan Brothers 
US$ 550 juta 
*145● A Siang Rusli ALI* 
CAPITAL GROUP 
Kurnia Tetap Mulia  
US$ 573 juta 
*144● Jacobus Busono* 
Pura Group 
US$ 575 juta  
*143● Fajar Suhendra* 
Sumatra Growth Group  
US$ 578 juta 
*142●  Soedjono* 
Wira Sakti Adimulya 
US$ 581 juta 
*141● Mintarjo Halim* 
Sandratex 
US$ 593 juta  
*140● Batihalim Stefanus* 
Nojorono Tobacco  
US$ 595 juta 
*139● Rudy Unjoto* 
Daliatex Kusuma 
US$ 596 juta  
*138● A Tong* 
Roda Vivatex 
US$ 598 juta 
*137. Honggo Wendratno* 
Arsari Pratama 
US$ 599 juta 
*136● Anna Bambang Surjo Sunindar* 
Kirana Tanker 
US$ 600 juta  
*135● Ricardo Gelael* 
Fast Food Indonesia  
US$ 605 juta 
*134● Iskandar Widyadi* 
Bank Jasa Jakarta  
US$ 612 juta 
*133● Shindo Sumidomo* 
Siantar Top 
US$ 613 juta  
*132● Siti Hardijanti Rukmana* 
Citra Lamtoro Gung Persada 
US$ 615 juta 
*131● Mardjoeki Atmadiredja* 
Surya Toto Indonesia 
US$ 617 juta 
*130● Widarto* 
Sungai Budi Group 
US$ 620 juta   
*129● G Lukman Pudjiadi* 
Jayakarta Group 
US$ 622 juta  
*128● GS Margono* 
Gapura Prima Group 
US$ 625 juta  
*127● Stanley S Atmadja* 
Asco Automotive 
US$ 627,5 juta  

  

Selanjutnya

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget