Hanya tulisan Retjeh...

Articles by "FIKSI"




Grafis: Pribadi
  
Oleh : YS Pujiono

Bus malam melaju membelah dinginnya malam. Fernando biasa dipanggil Nando gelisah diantara sekian puluh penumpang lain yang terlelap ke alam mimpi. Di samping tempatnya duduk, seraut wajah ayu yang tak dikenalnya masih terjaga. Pandangan matanya ke luar jendela yang gelap, sekelam malam. 
Ssshh... Nando mendesis kedinginan. Berusaha merapatkan jaket jeansnya. Tapi rupanya tak mampu mengusir dingin hawa AC. Tubuh seratus tujuh puluh lima sentimeter itu beranjak berdiri untuk menutup blower Ac. Naas, bus mengerem tiba-tiba.  Hampir saja dia terjengkang dan terantuk seat di depannya.  
Tapi... 

Tangan lembut dan hangat memegang pundaknya.  
“ Oups!” Serunya tertahan. 
" Maaf..." Hanya itu yang terucap sembari malu-malu. 
Si manis Cuma tersenyum. Diantara temaram lampu kabin masih tampak manis. Cukup menghibur lara hati Nando. 

" Sendiri? " pertanyaan konyol. Udah tahu sendiri... 
" As you see..." Jawab si manis.  
" Dingin banget Ac-nya..." Keluh Nando.  
" Gak kuat dingin? "  

Nando hanya angkat bahu.  Diluar rintik belum juga berhenti. Suasana sebenernya indah. Lampu-lampu berkelip-kelip dikejauhan sana. Bus melaju diantara persawahan. Entah dibelantara mana, mereka tak peduli. 

" Mau turun mana nih...hhmmm, mbak..." Sampai disitu Nando menggantungkan kalimatnya. Menunggu persetujuan di manis ini, maunya dipanggil apa. 

" Owh, saya Nancy.." Tangan mungil itu terulur, Nando menyambut dengan jabatan hangat. 
" Nando, Fernando..." 
" Fernando? " Mata bulat itu mendadak berbinar. Nando tak tahu apa arti pandangan itu. Pokoknya indah aja. Tak perlu ada alasan kenapa dia menunjukkan keindahan itu. Toh Tuhan menciptakan dunia yang indah ini hanya untuk manusia, dan nggak ada alasan tertentu kenapa Tuhan menciptakan.  

Manusia pun tinggal menikmati aja segala yang ada didunia ini dengan segala kondisi dan siklusnya. Tak perlu meneliti hal- hal yang nggak perlu diteliti serta mempertanyakan kepada Tuhan, "kenapa?"

Kenapa kita lahir, kenapa dan bagaimana kita hidup, serta kemudian kembali berkalang ditanah Tuhan, nggak perlu kita pertanyakan itu. Termasuk bagi yang jomblo, tak perlu bertanya kenapa Tuhan tak kunjung kasih pasangan. Jangan kawatir, Tuhan pasti kasih kok. Itu janji Tuhan. Dan Tuhan selalu menepati janjiNya. Emang manusia, ingkar mulu. Sok tahu mulu, dan kadang lancang. Meneliti hal-hal yang udah Tuhan ciptakan untuk hal-hal yang kadang gak berguna.  

Soalnya pernah tuh, ada profesor yang meneliti bahwa kecoak bisa hidup sepuluh hari dengan kepala terpenggal.  

Nah, lalu apa faedahnya buat kehidupan manusia?  

Apa kita tambah ganteng atau cantik kalau kecoa bisa hidup sepuluh hari tanpa kepala. 
Nah, lalu ada lagi profesor kurang kerjaan yang juga meneliti kehidupan para serangga. Katanya serangga nggak bisa merasakan sakit. Kalau serangga nggak bisa merasakan sakit, kenapa semut menggigit kita, padahal Cuma kesenggol dikit! Kenapa coba... ?
Biar apa coba? 
Biar kita nggak coba-coba menyakiti serangga, karena akan mubazir, gitu? 

Itulah manusia.  

Dan saat ini Nando hanya perlu melihat beliakan mata indah itu tanpa perlu tanya kenapa mata itu indah.  
" Can you hear the drum, fernando..?  " 
"  I remember long ago another starry night like this.."  Nando meneruskan lirik lagu legendaris ABBA itu. Kini dua sadar, kenapa mata itu berbinar. Rupanya dia menyukai itu. 
" Kamu suka Abba ya..?"  
" Dulu waktu opa masih ada, beliau suka nyanyi lagu-lagu ABBA.." 
" Opa? Kamu keturunan suku tertentu?" Dahi Nando mengernyit tanpa bermaksud rasis. 
" Iya, suku Jawa.."  

Mereka ngakak berjamaah. 
Tawa yang riang. 
Bus malam masih melaju dengan tenang. Mereka menikmati ayunan Air Suspension yang lembut. Tak lama mereka pun terlelap. Terlena dengan mimpi masing-masing. 
Mereka lelap? Tidak dengan Nando. Cowok itu tampak gelisah tak menentu. Sebentar-bentar menghela nafas.  

Tiba-tiba... 

Klik!

Suara pisau lipat Made In Swiss terbuka. Sejurus kemudian sudah menempel di leher Nancy. Merasa ada benda dingin menempel dileher, Nancy terbangun. Belum genap kesadarannya, " Sstt...keep silent. Serahkan gadget, dan dompetmu beserta isinya, dan kamu akan aman!" Gertak Nando setengah berbisik. 

" Nando...apa-apaan ini..?!" Nancy bergidik menahan dingin, antara udara AC, pisau yang nempel dileher, terbalut sempurna dengan rasa takut yang bukan kepalang. 

" Turuti kataku!" Ulang Nando. 

Nancy mengeluarkan seluruh benda yang diminta Nando. Dengan cekatan setengah gemetar Nando memasukkan benda-benda beserta uang yang diminta kedalam saku jaket Jeans-nya. Selanjutnya Nando merangkul pundak Nancy. Tanpa Mamfo sadari, sebenernya Nancy tidak takut dengan apa yang barusan diperbuat Nando.  

Nancy hanya perlu tahu, kenapa Nando melakukannya, itu saja.  

Benarkah Nando bajingan yang pura-pura jadi penumpang. Benarkah Nando kerjaannya emang kayak gini? 
Dari tampangnya Nancy tak yakin.  Tapi bukankah dunia ini penuh dengan segala kemungkinan yang kita seringkali tak tahu. Bukankah dunia ini penuh misteri.. 

Tangan kokoh Nando masih merengkuh pundak Nancy. Tapi rengkuhannya jauh dari kesan sangar, diam-diam Nancy menikmatinya.  

"  Kenapa kamu melakukannya, Nando..? Kalau kamu minta baik-baik juga aku kasih..."  
Nando hanya diam. Tak sepatah  kata pun terucap. Bayangan demi bayangan berkelebat. Tak peduli... Nando sama sekali tak peduli. Dia hanya butuh duit..itu saja.  

Tanpa terasa Adzan Subuh berkumandang. Perjalanan sampai disebuah kota kecil di pesisir utara propinsi Jawa Timur.  

Mereka turun, " Kamu boleh lapor polisi sesudah kita berpisah.." Bisik Nando ditelinga Nancy. 

" No, i won't...i just need my SIM Card inside my iphone. I need this, give it to me, please," Nancy memohon. 
Nando mencari peniti dan menusukan slot kartu SIM untuk mengeluarkan kartu SIM yang ada di iPhone  dan memukurkan kepada Nancy. 

Nanar mata Nancy menatap mata Nando. Masih tak percaya pada kejadian yang barusan dia alami. Nancy tak menyesal. Tak pula tak rela. Nancy rela. Tapi Nancy tak habis pikir. Kenapa Nando melakukannya? Hanya itu yang sedari tadi berkecamuk otak Nancy. Mungkinkan Nando setan berwajah malaikat, Serigala berbulu Domba, atau koruptor berwajah pendeta?  

Tak tahu.. 

Nancy tak peduli lagi.  
Nancy berjalan menuju mobil keluarga yang sudah menunggu ditepian terminal bus Antar kota.  
Sebenernya Nando bukannya senang. 

Tapi.... 

Telepon genggam Nando berdering, " Nando, sudah sampai mana? Jangan lupa bawa obat yang emak pesan ya, Nak..." 
Hati Nando hancur.  
Untuk inilah Nando melakukan semuanya. Untuk emak.  

" Nando..." Suara diseberang terdengar lagi. 

" I..iya emak, Nando sudah di terminal, nanti siangan dikit Nando beliin obatnya ya, Emak..." Ucap Nando lembut.  

Nando tak sadar, entah kapan dan gimana caranya, Nancy sudah berdiri dibelakangnya. Nguping ucapan Nando ditelepon. 

" Kalau kamu cerita dari awal, aku akan bantu kamu beli obat buat emakmu, Nando...tak perlu memakai cara Barbar kayak gitu..." Mata Nancy berkaca-kaca. 
Nando terkesiap. Sontak tubuhnya berbalin, menatap Nancy yang sudah berdiri sambil melipat tangan.  
Nando tergugu.  

" Ma...maaf.." Tiba-tiba, entah kekuatan darimana, Nando memeluk Nancy.  

" Aku antar kamu pulang.." Bisik Nancy.  

Setiba dirumah... Suasana sepi. Masih kayak pagi-pagi yang lain. Seperti dulu, beberapa tahun lalu ketika Nando beranjak dari halaman rumah ini dan merantau. Bau pasir putih khas pantai tercium dati pelataran. Beberapa pot bunga menggelantung di teras menambah asri halaman rumah. 

" Emakk...!" Pekik Nando tak sabar.  Belum ada jawaban.  Nando membuka pintu, alangkah kaget melihat emak terkulai lemas dikursi rotan yang sudah usang. 

" Emakkkk!"  

Nando memeluk emak, " Bangun, Emak...ini Nando bawa duit buat beli obat yang emak pesan! " Nando memeluk emak sesenggukan.  
Nancy hanya terpaku ditempatnya berdiri. 





Episode Yang lalu : Klik disini
Sebulan sudah Elisa tinggal di Sydney. Dan Yos...iya Yos yang bengal itu, tetap hidup. Yaelah, ya iyalah...masak ditinggal pacar 'tugas' terus gak hidup gitu? Ya tetap hidup lah. Apalagi Elisa pergi menuntut ilmu di negeri orang, bekal hidup di hari tua... Lho, bukannya itu salah satu lirik lagu jadul? Itu lho, lagu Oma Erni Johan yang judulnya Teluk Bayur. Udah ahh...pasti kalian generasi muda kagak tau lagu gituan. Itu jamannya Oma kalian masih muda. Waktu Oma kalian sekolah SMA naik sepeda Jengki.  

Ahh...kok ngelantur. Lanjut ceritanya. Ya, Yos tetap hidup. Sama kayak Elisa, Yos nuntut Ilmu, tapi di negeri sendiri. Bukan di negeri orang. Karena nurut Yos negeri sendiri lebih Adi luhung. Lebih arif ilmu disini. Manusianya juga bakal lebih sopan. Apa iya? Ya mungkin saja. Tapi kepergian Elisa gak segitu ngaruh dalam kegiatan gerombolan si Berat. Gak seberapa ngaruh terhadap kegiatan di SMA Atepen, SMA paling top diseantero kota. Semua masih jalan apa adanya. Bendera merah putih pun masih tetap berkibar diiringi upacara pengibaran di tiap hari senin.

 Iyalah, merah putih itu pasti, NKRI harga mati! Itu prinsip gerombolan si Berat. Sebadung apapun mereka tetap cinta negeri ini. Walau banyak yang bilang negeri warisan Kumpeni. Mana ada ituuu...warisan Kumpeni dari mana? Mana ada kumpeni mewariskan negeri ini! Yang ada para pahlawan kita lah yang merebut negeri ini dari penjajahan Kumpeni selama tiga setengah abad dengan darah dan airmata. Itu yang betul. Dan ini Senin keempat Elisa dinegeri seberang. Negeri yang dulu bekas narapidana ditaruh itu. Dan udah empat kali upacara bendera Elisa gak ikutan. 

Entah disana apa Elisa ikutan nyanyiin lagu kebangsaan persemakmuran Australia atau nggak. Sebodo ah...yang penting tiap malam mereka masih bisa 'tatap muka' lewat video call. Lebih bebas malah. Kalau Elisa di Indo mana bisa sebebas itu. Paling pol juga jam 9. Kalau nggak Papinya bakal nyap nyap. Pernah satu ketika pas malam minggu Yos selepas Apel, lalu pulangnya lanjut telpon sampai jam dua belas, besoknya dapat teguran keras. " Kalau mau begadang jangan ajak- ajak Elisa! " Gitu semprotnya. 

Yos blingsatan. " Ma..maaf om, tapi yang telpon Elisa. Bukan saia. Maklum om, resiko…" Yos ngocol. Melafalkan saya dengan saia.

 Sengaja pula menggantung kalimat biar papi Elisa penasaran.
 " Resiko orang ganteng, banyak yang ngangenin….hehehe, " Jawab Yos selenge'an.

 Papi Elisa tentu saja dongkol. Itulah kalau Elisa di Indo. Serba nggak bebas. Tapi dengan terpisah jarak mereka malah bebas telponan. Hanya saja memang nggak bisa ketemu langsung karena jarak pula. Nurut Yos sih bagusnya bokapnya Elisa yang di Ostrali. Tugas apa kek, sekolah kek atau ngapain kek disana, biar Yos sama Elisa bebas ketemuan. Kayak sekarang, Yos asyik masyuk kayak orang dimabuk asmara. Ketika jarum udah menunjukkan pukul 24.00 WIB, atau pukul 4 .00 pagi waktu Sydney, mereka asyik video call. Ber haha-hihi. Becanda kesana kemari. Mengulang lagi cerita-cerita lucu seperti kayak yang lewati bersama. 

" Eh, El..tahu nggak, anak-anak.sekarang tambah sinting!" Cerita Yos. " Anak siapa maksudmu, kamu udah ada anak?" Canda Elisa. " Yaelaaa..itu, para anggota si Berat.." Terang Yos

 " Oww…kenapa emangnya?"

 " Mereka makin rajin ke WC…" 

" Warung cekolah alias kantin? Bagus dongg…berarti kiriman mereka lancar, iya toh. Dan kayak biasa, kamu pasti makin rajin nebeng dong…hihihi"

 " Elisa sayangku, manisku. Masalahnya bukan ituuu…mereka lagi incer ponakan ibu pemilik kantin. Anak baru, pindahan dari Jakarta. " 

" Cewek apa cowok?" Elisa ngocol.

 "Lha, walau teman-temanku pada gila, mereka masih normal lahhh. Ponakan ibu kantin itu cewek..dia pindah kemari karena nantinya mau kuliah disini juga. Jadi penyesuaian terhadap kota ini, gitu.."

 " owh…cantik kah? Cantikan mana sama akyuu..?"

 " Ya cantik kamu lahhh. Kamu kan nomor satu dihatiku, " Puji Yos dikit ngegombal.

 Begitulah, sementara mereka pisah. Selebihnya semua wajar. Yos masuk sekolah kayak biasa. Matahari juga tetap bersinar tiap pagi, kecuali kalau tertutup awan. Dan pagi ini SMA Atepen sedikit heboh. 

Front man gerombolan si Berat jadi trending topik. Tulisannya diblog menjadi viral!

 Blog yang dulu digadang-gadang pun mencapai rating kunjungan ratusan ribu. Yang menggembirakan, untuk pertama kalinya tulisan itu mendapat penghasilan dari Google Adsense. Begitulah Yos, sosoknya selalu kreatif, tulisannya yang kocak, tajam, serta kritis mendapat tempat tersendiri dihati pembaca. Tak urung dari hari kehari jumlah pembaca blognya selalu bertambah.

 Ada aja yang ditulis. Entah itu esai, cerpen, atau kritikan-kritikan lucu dengan tujuan membangun. Gaya menulisnya yang kasual membuat orang tak bosan untuk selalu nunggu update Blognya. Sebenarnya sejak SD Yos udah menulis. Dan pagi ini, pagi yang maha indah. Hari selasa, tanggal muda. Bukan masalah kiriman yang baru sampai. Karena kiriman kan emang pas-pasan. Segitu-gitu aja. Hanya buat makan sebulan plus lebih dikit untuk malam mingguan. 

Kemarin Yos barusan mencairkan cek yang diterima dari Google, hasil dari Google Adsense. Para anggota si berat udah wanti-wanti jauh-jauh hari sebelumnya, kalau pencairan adsense pertama mesti habis dipakai makan-makan. Seluruh anggota si berat harus ikut menikmati hasil adsense. Karena dikit atau banyak ada beberapa ide tulisan yang datangnya dari cerita keseharian mereka. Cerita-cerita kayak gini mirip cerita Om Hilman Hariwijaya, pengarang Lupus era sembilan puluhan. Bedanya waktu itu Om Hilman dapat honornya dari majalah Hai yang jumlahnya segitu-gitu aja. Walau oplah majalahnya meningkat drastis. Tapi di masa sekarang besaran pendapatan kita ditentukan oleh jumlah pengunjung blog yang akan mempengaruhi jumlah pengiklan di blog kita. Jadi semakin bagus blog yang kita buat, semakin banyak iklan masuk, semakin gede pendapatan kita. Bisa jadi tanpa batas..

Bersambung


Bagian Yang Lalu : Klik Disini

Senin pagi, matahari  menyinari Bumi dengan malu-malu. Hangat sinarnya tertutup awan tipis sisa gerimis semalam. Sementara kabut tipis sudah mulai memudar. Udara kota Apel berangsur hangat.
Senin pagi biasanya akan menjadi 'horor'. Awal pekan setelah liburan sepertinya menjadi hari yang paling menyebalkan yang selalu muncul tiap selang tujuh hari dalam tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun.
Kecuali...pas ada hari besar atau tanggal merah di jari Senin. Maka peran hari senin sebagai 'horor' digantikan oleh hari Selasa. Tapi toh nama Selasa nggak sehoror Senin.
Dan senin ini adalah Senin normal. Karena bukan tanggal merah. Dan Senin ini kayak Senin double horror. Karena malam minggu minggu kemarin sehabis kebaktian remaja ada pula kisah sedih mengandung horor yang menimpa seorang Blackie. Eh, kok seorang sih? Bukannya Blackie Anjing.
Jadi?
Ya seekor Anjing bernama Blackie lah! Nah, itu yang bener...
Dan Senin ini kelompok yang memproklamirkan diri sebagai gerombolan si Berat nggak kayak biasanya
 emang masalah begajulan sih tetep. Petakilan, masih. Tapi raut muka mereka kayak menyimpan sesuatu. Semacam perasaan mencekam gitu. Apalagi ketika ada seorang dara manis nan jelita berjalan agak tergesa memasuki halaman sekolah setelah sebelumnya turun dari BMW X5.
Personil si berat berusaha menghindar dari lorong tempat nongkrong.
" Eit! Pada mau kemana kalian?!" Tangan Yos memegang pergelangan tangan Bernie yang mau cabut.
" Mau ke..ke toilet, bro...duh kebelet nih!" Wajah Bernie dibuat memelas. Budi rupanya punya niatan serupa, tapi langkahnya ditahan. Yosef cengar-cengir. Gak jauh beda. Frans tetap duduk memperhatikan tingkah rekan se-geng-nya.
" Kalau kamu, mau kemana, Bud...? " Tembak Yos.
" Hhmmmm...tadinya sih pengin pipis, tapi sudahlah.." Budi mengibaskan tangannya.
" Saia boleh beli gorengan nggak?" Yosef melafalkan 'saya' dengan 'saia', nurut dia sih itu bahasa kekinian. Tapi nurut orang waras itu bahasa orang sarap. Tapi ya begitulah, makhluk satu itu emang suka sesuatu yang beda dengan orang waras pada umumnya.
Adapun pertanyaannya, tidak digubris oleh Yos. Tapi demi melihat mata Yos, Yosef langsung duduk lagi. Pura-pura main Candy Saga Crush. Bayangkan! Dia kan ngakunya cowok tulen, kenapa main game gituan!
Semerbak wangi Body shop segar menggugah semangat, tapi bagi Yos ce es wangi kosmetik Made In England itu bagai minyak si nyong-nyong yang suka tercium ketika Kuntilanak menampakkan diri. Terasa sangat menakutkan. Suasana mencekam...
Elisa berlalu tanpa menghiraukan gerombolan Si Berat. Yos blingsatan.
" El...tungguuu!!"
Elisa acuh. Yos berusaha mengejar. Kayak di sinetron-sinetron picisan, Yos menghalangi jalan Elisa yang hendak menuju kelas.
Elisa 'pindah jalur' dengan gesit, kayak Honda Jazz yang menghindari truk bermuatan berat yang tiba -tiba menghalangi laju mulusnya.
Yos gak mau kalah. Ikutan 'pindah jalur', mengumpamakan dirinya Lewis Hamilton yang berusaha menghalangi laju Kimi Raikkonen yang hendak mendahului lajunya.
" Sayang...please, kamu kenapa?" Yos pura-pura bego.
" Rack off! " Hardik Elisa menggunakan 'slang' Ostrali, karena Elisa keseringan gaul dengan Bule asal negeri Kanguru di tempat les bahasa Inggrisnya. Yos yang nggak ngerti bingung.
" Rack...rack..rack apaan? Kamu kenapa sih?"
" Minggir!" Tegas Elisa, matanya mendelik. Wajahnya yang putih pualam merona merah.
Yos berhenti tepat didepan Elisa. Mereka berjarak sekian puluh sentimeter.
Saling pandang. Diam…
" Kamu apain si Blackie? " Ucap Elisa menahan marah.
" Hah?! Blackie? Kenapa dengan Blackie?" Yos emang pemain sandiwara ulung. Balik tanya dengan nada tak bersalah dan tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
Hampir saja Elisa percaya. Tapi tak percaya begitu saja. Elisa menatap mata Yos. Dikit mendelik, karena mata Elisa emang bulat, bening dan memiliki tatapan yang tajam.
Yos blingsatan.
Tapi Yos tetap berusaha tenang.
" Ayolah sayang cerita..."
Elisa tiba-tiba menghambur kedalam ruang kelas karena tak kuasa menahan tangis demi mengenang si Blackie. Yos hanya angkat bahu (pura-pura) tak mengerti.
Yos Featuring si Berat masuk kelas. Wajah-wajah bandit itu berusaha cool. Se-cool-coolnya.
Huuuuuu.....
Sorakan Grace, Olivia, Lannie dan Riyama serentak terdengar.
" Hey hitem! Mingkem kamu!! " Hardik Bernie kearah Riyama.
" Kamu sama pujaan hati jangan gitu. Sukanya kok kamuflase, dalam hati kamu tuh ngebet bingit pengin bercengkerama dengan dia, kan?" Yosep menimpali.
Bernie nyolot lagi, " Kenapa kau rupanya selalu ngeledek! " Pletak!
Kali ini kalimat Bernie diakhiri dengan jitakan ke kepala Yosep yang masih memakai topi. Niatnya sih buat upacara, tapi karena satu dan lain hal, upacara tiada.
" Hei kalian makhluk-makhluk hitem! Jangan pada ribut ya..nanti aku kasih kalian racun sianida kayak si black...." Budi melerai, tapi hampir saja keceplosan menyebut almarhum Blackie. Untung kaki Frans sigap injak kaki Budi.
" Kenapa kau? Tak suka kalau aku sebut kau suka Riyama?! Itu fakta! " Yosep tetap ngeledek Bernie.
Bernie yang geregetan merenggut topi Yosep dan melempar ke depan, topi mendarat bawah white board. Kelas gaduh.
Apalagi dengar-dengar kabar Pak Kuswantoro berhalangan hadir mengisi mata pelajaran PPKN. Tiba-tiba pada barisan kedua dari belakang pada mingkem, suasana rada hening. Makhluk-makhluk jelek itu tetap saling olok.
Sejurus kemudian Yos kasih isyarat supaya tenang. Pas mereka melihat ke depan kelas, Bapak Soewarno, B.A, sang Kepsek terlihat membungkuk mengambil topi dekil milik Yosep. Lalu ditaruhnya dimeja guru.
" Lancang!" Celetuk Nathanael.
Bapak Soewarno, BA mendelik kearah Yosep. Nah inilah anehnya beliau ini. Yang nyeletuk siapa, marahnya ke siapa.
Yosep salah tingkah dibuatnya. Nunduk, celingukan, tengok kanan kiri nggak jelas.
Sementara Bapak Soewarno, B.A masih mendelik, seolah pengin merangkai sebait umpatan atau sumpah serapah  ke bocah yang sudah dianggap musuhnya sendiri itu.
" Yosep Ronald Simanjuntak! Kamu jangan begitu, aku tau kamu! Kamu tahu aku! " Akhirnya kalimat itu yang keluar.
Gerrrrrr!
Tak ada yang bisa menahan tawa.
" Diammmmm!!" Hardik Bapak Soewarno.
Kelas hening. Tapi hanya sejenak, " Sama-sama tahu dong, Pak?" Yos nyeletuk.
Gerrrrr...gerr...gerrrrr...!
Kali ini kelas bener-bener tak terkendali. Bapak Sowarno tak tahan dan meninggalkan 'kelas Internasional'.
Yuhuuuu!!!

Bersambung

Bagi sebagian orang mungkin Anjing binatang yang manis, cute, penurut, setia pada tuannya. Hingga banyak orang memelihara anjing, baik itu untuk berjaga-jaga rumah atau sekedar untuk penghibur. Memang sih, banyak yang bilang anjing itu begitu mewakili kesetiaan seekor binatang. Dan diakui atau tidak, memang anjinglah binatang yang paling setia pada tuan atau nyonyanya. Bahkan ada satu hikayat yang menceritakan bahwa ada seekor anjing yang rela mati untuk melindungi tuannya dari bahaya. Nggak tau kapan hikayat itu di tulis dan darimana asal hikayat itu.

Yang jelas, semua gambaran diatas bagi Yos adalah mitos belaka! Yos menilai anjing itu seekor binatang penjilat, suka cari muka di depan tuannya. Sok kuasa, angkuh bagai putra seorang pengambil keputusan nomor satu di negeri ini. Setidaknya setelah Yos mengamati dan memperhatikan tingkah Blackie. Seekor anjing jenis bulldog, milik elisa, ceweknya.

Bayangin aja, semua orang kan tau, kalau papinya Elisa yang seorang pendeta itu kurang mendukung hubungan Yos ama Elisa, eh, anjingnya juga ikut-ikutan pasang aksi gak setuju. Berjuta alasan gak masuk akal yang dipakai papi Elisa. yang Yos itu orangnya ugal-ugalan lah. perokok lah, dan lain-lain dan lain-lain.
pernah pada suatu acara apel Yos terlibat 'perselisihan' ama si blackie dan bokap Elisa.


Ceritanya gini
Seperti biasa, waktu menunjukkan pukul tujuh tepat. Dan selayaknya orang mo apel,Yos udah rapi. rambutnya yang agak gondrong di sisir ala Jon bonjovi, ini maunya. Tapi karena di sekolah gak boleh terlalu panjang, jadinya poni dan lucu. kayak rambut Andika Kangen band, gak cocok poni tapi dipaksakan. sama kayak cinta mereka berdua, udah tau gak disetujui, tetepp aja dipaksa.
Dengan penuh percaya diri Yos memacu motornya.
"....Kupacu sepeda motorku, jarum jam tak mau menunggu, maklum rinduuu...
trafic light aku lewati, lampu merah tak peduli..jalan terus..."
Yos menirukan lagu lama iwan fals..
Motor pun menderu menuju rumah elisa yang sekaligus berfungsi sebagai gereja itu. tepat di samping pagar, Yos bersiul-siul..ga ada respon, Yos ketok-ketok pagar yang terbuat dari plat besi itu pake kunci kontak sepeda motor. Masih kurang keras, Yos ambil batu agak besar, dan memukul keras-keras..klontang!            Elisa yang lagi mandi tidak mendengarnya, sialnya, saat bersamaan si blackie yang mendengar adanya makluk asing yang tak diundang langsung menyalak.
Gukk....gukk..gukk..
                                                                                                                       
Papi Elisa yang lagi asyik baca koran terhenyak, lalu mengamati Blackie.
si Blackie lari kearah suara pagar di ketok diikuti papi Elisa.
Rupanya papi Elisa tau yos yang bikin ulah. Papi Elisa menggeleng-gelengkan kepala.
" Yos, kalau bertamu lewat depan ya. Nih pintunya disini, yang itu bukan pintu. Ato kamu udah lupa jalan masuk gereja.." Sindir papi Elisa pedas.muka Yos merah.
Dengan langkah gontai dia menuju pintu pagar depan diikuti pandangan menyebalkan papi elisa dan pnadangan sengit dari blackie.kayaknya tu anjing sebel banget ama tampang Yos.Yos tak mau kalah, dia mendelik kearah blackie.mereka saling pandang kayak musuh bebuyutan.
hal itu terjadi sampai saat yos memasuki pintu.
"hati-hati Yos, ntar kepale lo kejedot pintu.jangan meleng terus. .." coba saja dengar ucapan papi elisa.pedes banget kan.padahal, terlepas bahwa Yos itu pacar anaknya yang menyebalkan, kan yos tuh notabene jemaatnya.
Lantas kenapa dia ngomong kayak ngomong ama preman aja.gaya bahasanya menyebalkan sekali.
" Ada keperluan apa?" Papi elisa membuka percakapan. Dahi Yos mengernyit. ini orang berlagak gak tau apa gimana ya. orang udah susah-susah datang mo apel, malah belagak pilon.
"hmm...mau..mauu..eh"
"Singkat, jelas, dan padat..jangan bertele-tele.apa tujuan kamu kesini..." tandas papi elisa mantap, membuat jantung Yos berdegub.
" Mau ketemu elisa.." Yos tak mau kalah, nada bicaranya di buat setegar mungkin, meski masih aja gemetar.bukan hanya karena tekanan papi elisa, melainkan mata si anjing yang tanpa kedip memperhatikan Yos bagai seorang terdakwa.
" Elisa besok kan harus ngajar sekolah minggu, jadi malam ini dia lagi baca-baca alkitab..."
Yos menjejakkan kaki ke lantai, jedugg!
"Ada masalah Yos? " Selidik papi elisa.wajahnya berubah masam.
" oh...enggakk..om..eh, pak..."
" Udalah, kita sharing-sharing aja tentang kerohanian kita,daripada melewatkan waktu kamu sia-sia.."
Gukk..gukk..gukkk..blackie menyalak lagi, seolah meng-amin-ni kata-kata tuannya.
Yos yang kesal mendelik seraya mengeluarkan sumpah serapah," Anjing!"
"Apa?!" Papi elisa mendelik.
" Oh..enggak..om, itu si blackie.eh, anjingg.."
" O..itu.jadi gimana?"
" Saya tadi ada janji ama elisa om, bentarr aja..."Yos memohon.
" Dia masih mandi...tunggu aja, aku kasih waktu lima menit untuk menemuinya." pungkas papi elisa sambil masuk tanpa permisi. tinggal si balckie yang sesekali menyalak.seolah mengucap sumpah serapah.Yos jelas kesal.
" Yos..udah lama.." suara elisa muncul di dari balik pintu.wajahnya segar banget, rambutnya basah.
" Barusan aja sayang..."
Elisa duudk merapat Yos, " Yos, papi tadi ada bilang apa?"
" Ah nggak, ngajak sharing-sharing aja.." Yos menutupi 'dosa' papi elisa...
" Sharing?sharing apaan? lo tuh ke gereja datang lambat. pulang paling cepat.." ledek elisa..
gukk..guk...gukk
Sekali lagi blacke menyalak, kayak ikutan-ikutan ngeledek, " Diem lo anjing!" bentak yos geregetan.
" Yos...kamu tau, blacki itu seekor anjing, sudah semestinya dong kalau dia menggonggon. kenapa kamu jadi sewot gitu.." Ucap elisa seoalh membela blackie.
" Blackie, jangan gitu dong sayang. ini kan pacar aku, masak kamu menyalak-nyalak kayak melihat maling aja."

Lihat saja! Bahkan di elisa pun memanggil dengan sebutan sayang ke binatang tak tau diri ini. dan seolah lagi ngatain Yos dnegan sebutan 'maling'!
" Udah deh, aku pulang aja.." Yos ngambek dan siap-siap angkat kaki.
" Yos, jangan gitu dong sayang, masak sama anjing aja kamu cemburu.." Suara elisa merajuk.
Yos mengurungkan niatnya.
" Jadi ga kita pergi? " yos segera mengingatkan elisa pada janjinya siang tadi,sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.
" Tapi gimana dong pamitnya ama papi?"
" Gampang, jangan kasih tau kalau kita lagi mo pergi. kamu ngomong aja mo belajar bahan buat ngajar sekolah minggu besok. pura-pura masuk kamar, nanti kamu loncat pagar samping, oke?
" Ih..boong dong?!"
" Mau gak? " nada bicara Yos setengah mengancam.
 " Iya deh iya deh..."
" Udah deh sono, loe pamit ama bokap.."
" Iya deh, aku pamitan dulu, daripada ntar bokap kamu menggonggong."
" Hus..kualat kamu ngatain papi menggonggong."
tak lama kemudian papi elisa keluar..
" Ahh..panjang umur om.." Yos mencoba becanda.
"Siapa yang panjang umur? " Papi elisa mendelik.
" Barusan kami ngomongin Om.."
" Ngomongin apa? ngerasani ya? kalian ngomong apa? " Nada bicara papi Elisa seperti orang yang ga sabar.
" Sabar om..kami gak ngomongin om yang aneh-aneh kok. kami hanya membahas, gimana caranya Om tetap rukun-rukun saja dengan si blackie. Kami akan senang kalau antara Tuan dan hambanya tercipta hubungan yang harmonis. bukan begitu elisa." ucapan Yos yang kurang ajar sontak membuat muka papi elisa merah seperti udang.elisa menginjak kaki Yos.
" Oke Om, berhubung waktu sudah malam, saya pamit dulu..." Yos menjabat tangan papi elisa dan cabut. Papi elisa gak bisa berkata apa-apa.
Yos mengerlingkan mata memberi isyarat pada Elisa.
Elisa segera menuju pavilun, Yos pura-pura menghidupkan motornya. selanjutnya Yos menjalankan motornya, pura-pura cabut. padahal, dalam jarak seratus meter dia berhenti dan kembali ke samping rumah Elisa. Dan Elisa bener-bener meloncat pagar. Dengan sigap Yos membantu Elisa turun dari pagar.
berdua mereka melewatkan malam minggu di taman kota ala para remaja yang lain.


                                    ****
Senin yang cerah. halaman sebuah SMA  dipenuhi senyum ceria para penghuninya. Wajah mereka segar-segar setelah akhir pekan. Sekelopok siswa tengah asyik ngerumpi di sudut kantin. Padahal mereka cowok, tapi kalau urusan ngerumpi, gak kalah ama cewek. Kebetulan mereka memang tinggal satu rumah, semacam kos gitu. rumah itu properti bokap Yos yang pindah tugas ke kediri. lalu rumah itu di buat camp ama Yos Cs. asal mo ikutan iuran listrik ma air, mereka bebas tinggal. tapi yang tinggal di situ nggak jauh-jauh. maksudnya, mereka ya yang cocok ama Yos. alias teman-teman dekat Yos.
ngak hanya di di rumah mereka bareng, di sekolah pun mereka bareng, karena mereka kebetulan satu kelas.
celakanya, mereka sama-sama badung.
Badung sebadung badungnya. saking badungnya, para guru menyebut mereka gerombolan si berat. udah tau nggak boleh jajan di luar sekolah, mereka sering kali nekat menerobos pagar belakang buat jajan di warung pangsit mie di belaang sekolah. kebetulan, warung mie itu terkenal enaknya di seantero kota.
misi mereka jajan di warung belakang sebenernya bukan hanya untuk ngisi perut. tapi sekaligus untuk bisa merokok. karena merokok jelas-jelas kegiatan yang di larang di seluruh lingkungan sekolah.solusinya, ya ngumpt di warung mie belakang.
bukan hanya itu reputasi buruk mereka. di sekolah kan ada aturan, kalau masuk halaman sekolah, harap turun dari kendaraan dan matikan mesin. tapi anak-anak outlaw itu nggak menggubris sama sekali aturan itu.
" salah sendiri tempat parkirnya ada di belakang gedung. kalau tidak boleh menyalakan mesin ya taur dong tempat parkir di depan gedung sekolah, ' Begitu Bernard, salah satu anggota gerombolan si berat berargumen.
kontan argumen itu sering kali membuat panas telinga guru BP atau WAKASEK urusan kesiswaan.
bukannya mereka tidak pernah sangsi. sering tuh mereka di kenai sanksi. Tapi yang namanya anggota gerombolan si berat, mana mempan sangsi. mereka tetap ndablek.
seperti pagi itu.salah satu anggota Si berat yang kebetulan agak telat datang memacu Honda CBRnya di halaman. Suara motor rakitan Thailand itu menderu-deru. "

" HUuuuuuuuuuuuuuuu!" Teriakan dari para dara gatal yang lagi asyik kongkow di lorong sekolah.

" Weekkkkk!" Si pengunggang motor  mencibir kearah mereka. Yos buru-buru memacu lebih kencang agar tidak ketahuan pak bambang, si tukang kebun yang rese dan bawel itu.

" Eh, pak kos datang!" Seru bernie menunjuk Yos yang memarkir motornya. Yos segera menghampiri mereka.

" Wah..apelnya seru nih!" suara lantang Frans segera terdengar.

" Jangan di ledekin ah, katnya pak kos lagi berantem ama anjingnya pak pendeta. budi ngeledek.

" Kalian salah besarrr..salah, salah,dan salahhh!" Ucap Yos jumawa sambil menunjuk satu persatu teman-temannya ketika mengucapkan kata 'salah'.

" Kencanku malam minggu sukses berattttt...suksesss mannnnnnnnnnn!" sambung Yos membuat temannya melongo.

" Alahhhh berhenti membual kenapa sih? pan kita orang udah pada tau gimana kondisi kalian." Sergah bernie tak percaya.o iya, bernie nih orangnya di kenal paling rese serumah. tukang mengganggu orang tidur, tukang nyolong rokok. tapi paling pelit. paling pinter nyimpan persediaan indomienya.
padahal kalau dia sedang kere, mengemis-ngemis indomie atau sebatang rokok pada yang lain.satu lagi, kalau ngomong si manado satu ini ga mau di kalahkan. penginya dominan di settiap topik pembicaraan pada forum si berat. tak ayal hal inilah yang membuat eneg beberapa anggota si berat yang lain. tapi bagaimanapun, dia kan teman.

" Eh kehet, diem lo..denger ye. aku memang nggak akur ama anjingnya. gak harmonis ama bokapnya, tapi urusan kencan, aku ga bakal terganggu ama mereka-mereka itu. aku ga peduli ama sikap kunyuk-kunyuk yang nggak proaktif terhadap pergerakan. ingat itu!" Gaya bicara Yos mirip politisi. gerakan-geraknnya pun di buat seatraktif mungkin. pas banget ama kalimat gombalnya.

" Ehemmm.." Sontak Yos menoleh. Elise ada di belakangnya, menyilangkan tangan.

" Emang ada kunyuk yang mengganggu malam minggu kita ya? " wajah elise yang dingin membuat Yos keder.

" Eh..ti.tidak, bukan kok..kencan kita sukses kita kan sayang.."

" Yosssssss! jadi kamu di belakangku menyebut papi kunyuk yaaa!" Elise meradang dan menarik telinga Yos.

Para anggota si berat ngakak.

                                                                     ***

Pas keluar main pertama, mereka meneruskan topik pembicaraan. mereka memilih warung pangsit mie. Berlima mereka mengendap-endap panjat pagar belakang.

" Pada ngapain kalian!" Bentak pak Bambang jumawa, merasa bisa menangkap basah para pemberontak ini.

" Oo..pak bambang.." Yos pasang muka dingin.

" Ga bisa melihat orang sennang ya..? suka rese ya? mau rokok ga? " Yos menunjukkan sebungkus rokok dengan wajah penuh kemenangan.

" Eh, mau mau..sering-sering saja ya meloncat pagar..." Pak bambang cengengesan. wajahnya kayak anak kecil elihat permen.dasar mental suap. disuap rokok sebungkus mingkem.
\
" Hati-hati ya anak-anak.." pesan pak bambang sambil menimang rokok. wajahnya menyebalkan.
sesampainya di warung mereka memesan mie.khusus untuk Bernie, langusng pesen dua mangkok,mumpung ada yang bayarin katanya.culas banget kan..

" Kalau di terus-terusin gini, hubunganmu jelas terganggu Yos.." Frans memulai provokasinya.

" Maksudnya?"

" Pura-pura tidak tau lagi kau..." sambar Yosef , si Bloon ngaku pinter.

" Ohh..masalah papi Elisa...? tenanggg..kita bisa melakukan pendekatan secara persuasif. Kita bisa pura-pura rajin ke gereja, ikutan persekutuan mingguan, dan mendaftar jadi guru sekolah minggu. pendeknya, kita harus cari muka dehhhhh.." Budi kasih solusi.

" wah...agak berat sihh.." Yos menggaruk-garuk kepala, " Tapi masuk akal juga Bud. sejauh ini yang idenya masuk akal kayaknya hanya kamu deh.." Sambung Yos antusias.

" Lalu urusan anjingnya? " Bernie nyolot.
Yos garuk-garuk kepala lagi, " Tuh binatang emang ga bisa di kasih hati. pas aku datang apel dia memanggil bosnya, membuat aku ketahuan.bukan itu saja. sepulang aku dari gereja paginya, eh..dia nyalak lagi. bahkan nyaris menggigitku.."

" nasib kita hapir sama. minggu lalu dia ngejar-ngejar aku.." Frans mendukung.

" Benar-benar kurang ajar tuh binatang." Komentar Yosef.

" Di racun aja, anjing hitam kan dagingnya lezat.." sambil mencunyah mie, bernie memberi usul.
Yos menepuk jidatnya...

" Ohooo..ide bagus. itu baru ide..." Yos menepuk-nepuk pundak Bernie, tapi tersenyum licik sambil memberi isyarat yang lainnya. mereka menggangguk-angguk, walau sebenernya ga gitu ngerti arti senyuman licik Yos.

                                                                           ***

Sorenya di rumah mereka membahas rencana itu. Yos membisikkan sesuatu ke telinga Budi. Budi menggangguk-angguk sambil tertawa.
ketika Bernie datang ikutan nimbrung, Yos minta pendapat lagi, " jadi gimana Bern..?"

" Gimana apanya? "

" Ide kamu tadi.."

" Ngeracun anjing bokap Elisa..?"

" Iyalah, masak mo ngeracun bokap Elisa.."

" Gini ya..." bernie mengatur nafas, yang lain mengamati gaya bicara bernie yang terkesan licik.

" Sekali kail, dua ikan tertangkap, sambil berenang minum air.." Bernie memulai teorinya.

" kalau renangnya di kolam susu? " Yosef ngocol. tapi tidak lucu dan membuat yang lainnya jengkel.

" Mingkem lo!" Bentak budi.

" Gini, daging anjing hitam menurut orang manado kan enak..." Bernie meneruskan teorinya.

" Kita racun tuh anjing malam minggu akan datang. mengapa malam minggu? karena sabtu sore kan ada kebaktian umum.Dan malam minggu juga malam yang enak di buat pesta..nah, langkah pertama, kita pura-pura ikutan kebaktian. Saya bersedia bertugas meracuni. Dengan alasan, saya kan tiap kali kebaktian suka duduk di depann.."

" Iya, karena lo suka cari muka .." Yosef nyolot lagi.
Pletak! jemari Frans yang gatal memberi sebuah jitakan manis di kepala Yosef, " mingkem lo!"

" Terusin Bern.." Ucap Yos.

" Logikanya, yang duduk di depan itu kan pulangnya paling akhir, sebab gereja kan di belakang. nah, kalau yang paling belakang yang ngasih racun, kecil kemungkinan ketahuan, gimana? bagus bukan ide saya? " Bernie minta pendapat

" Bagus..baguss..!" seperti barengan mereka berucap. Yos tersenyum simpul kearah Budi. Budi menahan tawa.
Krinngg...kringgg...
Telpon di ruang tengah berdering.
Mereka berebutan angkat siapa tau gacoan.akhirnya Budi yang sampai duluan di meja telpon.." Hallo...ya betul.siapa, Yos? ada tuh, ini darimana? oh..kamu El.."

" Yos, Elisa.." Budi menyodorkan gagang telpon.

" hallo El...ada apa nih? gitu. ya udah deh saya kesana. "
anggota si Berat pada bengong menyaksikan Yos.

" Guysss...saya akan cabut sejenak, jemput tuan Puteri..sekali lagi, jemput tuan Puteri pulang les piano. kalian baik-baik ya jaga rumah..." Yos cengengesan.
Budi angkat bahu. Yosef bersungut-sungut sebal...bernie memandang licik. Senyum Yos kearah bernie tak kalah licik.
Yos memacu CBR-nya melintas di jalan Retawu. menuju tempat les.ah, akhirnya asda kesempatan di luar sekolah selain malam minggu. Elisa mulai ikut les piano lagi. berarti ada waktu lebih yang biosa di colong dong. begitu pikir Yos.
Tak sabar Yos menarik gas lebih dalam. Motor melesat. Melewati depan gereja. Tiba-tiba ada dua makluk melintas. Kontan Yos kaget dan menginjak rem dalam-dalam.Ciettttt...asap putih mengepul dari roda.

" Anjing! gak pernah makan sekolahan ya? !" Bentak Yos misuh-misuh. Tapi sekejap kemudian wajah Yos pucat. Itu kan papi elisa yang lagi nyeberang ama Blackie.
Yos menutup kaca helm fullfacenya, berharap semoga papi Elisa  tidak tau. Tapi harapan Yos kosong, sebab papi Elisa mengenali motor Yos, " Awas kamu!" Ancam papi elisa tanpa sepengetahuanYos.
" Awas kamu! akhir pekan ajalmu tiba!" Yos mengancam balik tanpa sepengetahuan dua makluk paling menyebalkan sedunia itu.
Yos melanjutka perjalanan.
Sesampainya di tempat les, Elisa tengah duduk manis. Senyumnya mengembang tatkala melihat kehadiran Yos.
" Dah lama nunggunya? " Yos basa-basi.

Basi!

" Barusan kok. Cepat amat?"

" Iya, saya ngebut, sampai mo nabrakkk.." Oupss! hampir saja Yos keceplosan. dia menutup mulut.

" Nabrak apaan? " Desak elisa.

" Hhhmm..nabrak mobil? " Yos bohong.

" Hati-hati dong sayang..." Elisa menggelayut manja. Ragu Yos melaju menuju rumah Elisa. Gimana ntar kalau bokap Elisa tau bahwa yang ngumpatin tadi adalah si Yos.
Ragu Yos melepas handle kopling dan menarik gas. motor berjalan pelan.Sepanjang jalan Yos mikir. Apa jadinya kalau bokap Elisa tau.

" Apapun yang terjadi-terjadilah.." ucap Yos dalam hati.
Sesampainya di depan rumah elisa, kebetulan lagi sepi, bokap Elisa lagi ga ada kayaknya.

" Eh El, aku cabut langusng aja ya. anak-anak dah pada nungguin, mo taruhan main Playstaion.." Yos bergegas. Elisa yang tidak baisa melihat sikap Yos geleng-geleng kepala heran. Gak biasanya cowoknya aneh gitu. Elisa menempelkan jarinya di dahi...
" Mungkin takut ketahuan papi deh kayaknya, " Elisa tersenyum.
Sesampainya di rumah, Yos kembali menyusun rencana busuknya.

"Sampai dimana tadi topiknya? " Yos membuka topik lagi, teman-temannya lagi asyik nonton TV. Begitu topik di buka, mereka menoleh serentak kearah Yos.

" Rencana eksekusi si blackie.." Bernie langsung nyahut.

" Iya, gimana nih rencananya?" Tambah budi..

" Oke, hari sabtu, kita ikutan kebaktian anak muda. trus, Bernie yang biasanya suka duduk di depan bertugas membawa makanan yang sudah di taburi racun. Selesai kebaktian, Bernie memancing blackie supaya keluar areal gereja. dengan begitu, memudahkan kita untuk menjalankan aksi, serta lebih aman...gimana? " Yos membri penjelasan.

" Rencana bagus!" Serempak mereka memberi komentar.

Sabtu sore yang cerah. jalanan Kota Dingin mulai ramai lalu lalang kendaraan bermotor. Suasana khas akhir pekan. padat. Sekelompok anak muda berombongan mengendarai sepeda motor. Mereka berjalan beriringan. Wajah mereka segar dan cerah. Seperti umat kristiani pada umumnya, mereka membawa Alkitab untuk mengikuti kebaktian pemuda. Ada seorang yang membawa tas, tentu saja berisi alkitab.Tapi tunggu, selain alkitab, ada benda lain di dalam tas itu.
Sepotong daging yang di bungkus wadah yang terbuat dari plastik. Daging itu tertutup rapat. Selain itu juga beberapa batang tulang sapi yang di bungkus tas plastik.
Sesampainya di sebuah gereja, rombongan anak muda yang tak lain adalah Gerombolan si Berat itu masuk halamannya. Mereka memarkir kendaraan masing-masing. Bibir mereka tak lepas dari senyum licik penuh kemenagan.

" One for all, all for one..." Yos mengajak kompakan sobat-sobatnya.

" One for all, all for one..!" Tiru mereka serempak sambil menyatukan telapak tangan masing-masing.

Sesuai rencana, mereka berpencar memasuki gedung gereja. Bernie paling depan dan mengambil tempat duduk di depan. Di kursi baris pertama, seperti kebiasaanya. Tak ada yang aneh dengan tingkah mereka.
hanya Bernie yang tampak gelisah, kotbah pendeta tamu nggak masuk sama sekali dalam otaknya. Tingkah Bernie rupanya ada yang mengamati. Pak pendeta!dia duduk tepat di samping Bernie.

" Nggak biasanya kamu gelisah Bern..ada apa? Takut waktu apel telat? " Bisik pak pendeta.

" Eh..iy..iya pak, maaf..."

" Apel sih apel, tapi ini waktunya ibadah." Nasihat pak pendeta.
Bodoh amat!
Ucap bernie dalam hati.hanya dalam hati, takut pak Pendeta mendengar. nggak tau kalau habis ini akan ada berita duka cita ya...

Tak sabar Bernie menanti saat-saat mendebarkan, menghabisi nyawa Blackie. Selesai Pendeta kotbah, Bernie dengan sabar nunggu giliran dia keluar.pas semua udah keluar, Bernie dengan lagak kayak James Bond melangkah. hidungnya mendongak penuh kemenangan. Gaya khas british monarchy. Di pintu terdengar suara ngoss..ngos..ngoss..

" Blackie..Blackie.." Sapa Bernie sok ramah.
Rupanya umpan mengena. Blackie menanggapi dengan 'ramah' pula.

" kaing..kainggg.." ucap blackie seolah senang mendapat teman baru.

" Blackiee.." Bernie berhenti dan membelai kepala Blackie. seperti terbius, Blackie membenamkan kepalanya ke tangan Bernie. Bernie mengeluarkan sepotong daging. Blackie siap dengan sigap menyambar daging itu. Tapi tangan bernie berkelit. blackie penasaran. Bernie berdiri, mengacung-acungkan daging itu. Blackie mengejar berni.sesampainya di luar pagar, Yos cs menunggu pada jarak lima puluh meter.

Bernie memberi isyarat, bahwa si blackie masuk perangkap. Bernie melenggang menuju komplotannya diikuti langkah penasaran Blackie.

" Nah...sini lo sialan!" Hardi Yos pelan. Berusaha menahan amarah karena dendam. Kawatir blackie ketakutan. Tapi mata blackie memang hanya tertuju satu tujuan, sehingga tidak memperhatikan di depannya ada musuh bebuyutan.
Bernie duduk lagi.

Tangannya menyodorkan daging. Memasukkan ke mulut Blackie. Dengan rakus Blackie melahap daging beracun itu. Gerombolan si berat mengamati Blackie yang menyantap daging hingga tandas potongan pertama.

" Nambah ya? " Bernie mengeluarkan sepotong lagi. Di sambar lagi. Selesai potongan ketiga, blackie duduk. Dan,  '”ngos..ngoss..ngoss.." Lidahnya terjulur seolah merasa puas menikmati daging goreng.

"Kenyang? " Tanya Bernie pada anjing jelek itu.
Tiba...tiba....
Seperti kesakitan, Blackie meggeliat-geliat.

" Ini saatnya, " Budi mengeluarkan karung. Siap-siap memasukan si blackie yang lezat, untuk dipakai minum beer di akhir pekan.
Tapi tunggu...

Si blackie tidak mau meregang nyawa di depan ‘musuh-musuhnya’. Si Blackie memilih lari ke arah gereja.

" Kaingg..kaingg..!" Seru blackie seperti menahan sakit. Berjingkat gerombolan si berat mengikuti.
Didepan pintu Blackie tertatih-tatih, berusaha meneruskan langkah. Tepat di depan pintu gereja Blackie kelojotan.
Papi Elisa kaget. " kainggg..kainngggg!” Lengking Blackie panjang.

" Blackie, kenapa kamu?!" Panik papi Elisa menggoyang-goyang tubuh Blackie. Tapi namanya binatang, tak tahu kerisauan tuan-nya. Dia tetap kelojotan.

" Elisaaa!!!sini!" Seru papi Elisa. Elisa yang baru saja membantu menghitung jumlah kolekte berlari menghampiri papinya. Semuanya tak lepas dari pengamatan gerombolan si Berat, " Wahh..kacau..! Pestanya bakal gagal!" Berni tampak kecewa. Budi tegang...Yos  ketakutan.

" Ya ampunnn Blackiieeeee!!!' Elisa histeris, mendapati si Blackie sudah meregang nyawa.
Elisa menggucang-guncang tubuh blackie. Tapi blackie sudah tidak bergerak sama sekali.
Elisa menagis meraung-raung, kayak di tinggal mati bapaknya.
" Lari...!"perintah Yos.
Tanpa komando kedua kalinya, si berat tunggang langgang  menuju motor yang di parkir tak jauh dari gereja.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget